Hari Raya Iduladha di Indonesia telah ditetapkan jatuh pada Minggu, 10 Juli 2022 berdasarkan sidang isbat Kementerian Agama RI pada Jumat (1/7).
Ternyata, hari perayaan Iduladha di Indonesia berbeda dengan Arab Saudi yang jatuh pada 9 Juli 2022.
Perbedaan waktu antara Indonesia dan Arab Saudi ini mendorong Ustaz Abdul Somad (UAS) untuk menjelaskan lebih detail melalui laman Instagram miliknya.
UAS menjelaskan bahwa perbedaan waktu wajar terjadi karena setiap negara memiliki syuruk atau waktu terbit matahari yang berbeda-beda.
"Jamaah: "Kita ikut Makkah apa Pekanbaru Ustadz?". Ustadz: "Makkah tu punya mathla' sendiri, Pekanbaru punya mathla' sendiri. Makkah punya syuruq sendiri, Pekanbaru punya syuruq sendiri. Tak sama. Mana bisa kita ikut Makkah. Kalau kita di Pekanbaru ikut Makkah. Berarti shalat zhuhur kita jam 15.30 Wib"," tulis Ustaz Abdul Somad.
"Jamaah: "O gitu, tapi, berarti kita lebih dulu Ustadz. Kok bisa Makkah Idul Adha Sabtu 9 Juli, kita Idul Adha Ahad 10 Juli?". Ustadz: "Waktu sholat pakai waktu matahari, kita di timur lebih dulu. Kalau awal bulan tu ikut Hilal, bulan, yang di barat lebih dulu"," lanjutnya.
UAS kemudian membandingkan ketentuan waktu salat dengan waktu puasa. Waktu salat ditentukan oleh perputaran matahari, sedangkan puasa ditentukan berdasarkan hilal atau bulan.
"Jamaah: "O begitu. Tapi kan puasa Arafah tu ikut Wuquf Ustadz?!". Ustadz: "Wuquf ikut apa? Ikut tanggal 9. Tanggal 9 ikut apa? Ikut tanggal 1. Tanggal 1 ikut apa? Ikut hilal. Jadi puasa tu tanggal 9, bukan tanggal 8, bukan pulak tanggal 10. Ikut mathla' daerah masing-masing"," sambungnya.
Lebih lanjut, UAS menjelaskan bahwa perbedaan waktu seperti ini pernah terjadi saat zaman Salaf, yakni zaman kepemimpinan Nabi Muhammad hingga 300 Hijriah.
"Jamaah: "O bgitu. Tapi apa itu pernah terjadi zaman Salaf ustadz?". Ustadz: "Kuraib dari Madinah ke Syam. Di Syam mereka melihat Hilal malam Jum'at. Ibnu Abbas di Madinah melihat Hilal malam Sabtu. Syam dengan Madinah aja beda mathla', apalagi Makkah dengan Pekanbaru"," jelasnya.
"Jamaah: "O begitu, tapi Ustadz". Ustadz: "Sekali lagi kau bilang O, ku doakan mulut kau bulat". Jamaah: "Ee ... ð??"," tutupnya.
Sementara itu, Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah (Urais dan Binsyar) Kementerian Agama Adib juga sempat menjelaskan perbedaan waktu terjadi karena Arab Saudi terletak lebih barat dari Indonesia.
"Waktu di Indonesia lebih cepat 4 jam, tetapi hilal justru mungkin terlihat lebih dahulu di Arab Saudi, karena terlihatnya di sebelah barat pada saat matahari terbenam atau dikenal dengan istilah ghurub asy-syams," kata Adib, dalam keterangannya, seperti dikutip detikcom.
"Jadi kurang tepat jika memahami karena Indonesia lebih cepat 4 jam dari Arab Saudi, maka Indonesia mestinya melaksanakan Hari Raya Iduladha 1443 H juga lebih awal. Jelas pemahaman ini kurang tepat," pungkasnya.